Filsuf-Filsuf Abad Pertengahan

Filsuf-Filsuf Abad Pertengahan


Peristiwa terjadinya kekosongan filsafat dimana pada saat itu gereja-gereja mengambil alih, memang tidak lepas dari filsafat abad pertengahan. Abad pertengahan adalah zaman keemasaan bagi kekristenan. Ini adalah salah satu persoalan, agama kristen ketika itu mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan yunani kuno mengatakan bahwa kebanaran dapat di capai oleh kemampuan akal.
            Para filsuf yang hidup pada masa itu dibatasi dalam berfikir, dan semua harus ikut dengan kebenaran-kebenaran ajaran gereja. Tidak sedikit dari filsuf yang menentang peraturan tersebut, dan akhirnya mereka dianggap murtad dan dilakukan pengejaran. Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir XII, dan yang paling berhasil dalam pengajaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Masa abad pertengahan in juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia kedalam kehidupan atau sistem kepercayaan yang fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengatahuan terhambat.
1.    Plotinus
Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Ia mengajukan teori emanasi yang terkenal. Teori ini diikuti oleh banyak filosof Islam. Teori itu merupakan jawaban terhadap pertanyaan Thales kira-kira delapan abad sebelumnya, apa bahan alam semesta ini. Plotinus menjawab, bahannya Tuhan.
2.    Agustinus
Augustinus lahir pada tanggal 13 november 354 di Tagaska, Numidia (sekarang Algeria). Permenungan Agustinus mengenai hakikat dari waktu yang tertulis di dalam Pengakuan-Pengakuan,  menurutnya Allah hadir di luar waktu dalam "masa kini yang kekal"; bahwa waktu hanya terdapat di dalam alam ciptaan karena waktu hanya dapat dirasakan dalam dimensi ruang, yaitu melalui gerak dan perubahan.
3.    Thomas Aquinas
Hanya ada dua kekuatan yang menggerakkan gemuruhnya dunia, agama dan filsafat. Aquinas membicarakan kedua-duanya, hakikat masing-masing, serta hubungan kedua-duanya. Ketertarikan pemikirannya dengan Agustinus yang hidup hampir seribu tahun sebelumnya cukup jelas, Agustinus juga membicarakan agama dan filsafat, hakikat serta hubungan kedua-duanya.

Komentar