Kemunculan Filsafat Moderen
Kemunculan Filsafat Moderen
Perkembangan filsafat masuk pada sebuah periode yang disebut zaman modern, setelah mengalami krisis pada abad pertengahan antara abad ke-14 hingg awal awal abad ke-15. Periode ini diawali oleh sebuah gerakan yang disebut renaissance. Gerakan renaissance membuat otoritas sains semakin menguat. Ia mampu mengalahkan otoritas wahyu yang begitu menghegemoni di abad pertengahan.
Dalam bidang filsafat, corak pemikiran di awal peiode modern juga berbeda dengan abad pertengahan. Jika pada abad pertengahan filsafat lebih mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal yang abstrak, filsafat pada awal abad modern mulai mencurahkan perhatiannya kepada alam semesta, manusia, hidup kemasyarakatan, dan sejarah.
Pada abad ke-17 ini, kedewasaan pemikiran telah tercapai. Oleh karena itu, pada abad ini timbul aliran yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme dan empirisme. Selain itu, adapula aliran kristisisme yang lahir pada abad ke-18.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme berpendapat bahwa pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio (akal). Toko-tokoh dari aliran ini di antaranya adalah Rene Descartes, Blaise Pascal, dan Baruch Spinoza.
Rene Descartes disebut sebagai filsuf yang memeberi landasan bagi tumbuh kembangnya aliran rasionalisme. Selain itu, dia kerap disebut sebagai “bapak filsafat modern”. Pemikiran Descartes yang paling penting adalah tentang metode. Dia berpendapat bahwa agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbaharui, diperlukan sebuah metode yang baik. Metode terbaik, menurut dia adalah dengan meragukan segala-galanya. Ungkapan yang terkenal dari ajaran Descartes ini adalah cogito ergo sum, yang memiliki arti “saya berpikir atau ragu-ragu, maka saya ada”.
Empirisme
Aliran empirisme mengajarkan bahwa sumber kebenaran adalah dengan pengalaman. Aliran ini memandang bahwa pengalam, baik yang bersifat batiniah maupun lahiriah, adalah sumber kebenaran yang utma. Adapun filsuf yang masuk pada aliran ini adalah Thomas Hobbes dan John Lock.
Locke adalah filsuf pertama yang petama kali menerapkan metode empiris kepada persoalan-persoalan tentang pengenalan dan pengetahuan. Baginya, yang terpenting adalah bukan memberi pandangan metafisis tentang tabiat roh dan benda, melainkan menguraikan cara manusia mengenal. Oleh karena itu, dia adalah pemberi landasan ajaran empirisme tentang idea-idea dan kritik pengenalan.
Komentar
Posting Komentar